Spiga

Pesan Terakhir

Gerimis di luar seolah memagari alam, termenung aku di sini sambil memandangi rintik-rintik di luar jendela kamarku yang semakin lama makin membesar. Aku jadi teringat kejadian tiga tahun yang lalu, waktu itu aku baru kelas III SMA, keadaannya sama seperti sekarang, ditengah guyuran hujan.
Saat itu....
”Sin, Pulang yuk!”. Aku masih menyalin tugas untuk besok, acuh tak acuh oleh ajakan Sari, Sahabatku. ”Kamu kenapa sih, kok diam aja, marah ya?”. Aku masih diam. Ya udah, kalau gitu aku tunggu di luar ya”. Serta merta aku menarik tangan Sari, soalnya kalau dia ngambek susah ngobatinya. ”Sorry ya Sar, kamu tadi kucuekin, lagian kamu kan tahu, aku ini lagi kesel gara-gara Erwan tadi, lagi pula..., di luarkan hujanya deras”.
”Makanya Sin, kalau lagikesel sama orang, langsung aja ke orangnya, jadi nggak nyakitin hatimu sendiri, sampe-sampe aku kena batunya. Kalau masalah hujan deras..., kan ada payung, lagian..., tuh Pak Mamat udah jemput.”.
”Iya iya. Sorry deh. Eh... ngomong-ngomong Pak Mamat markir mobilnya di sebelah mana? Kok gak kelihatan di tempat biasa?”
”Eh kamu aja yang gak ngeliat, itu loh di bawah pohon akasia, tuh Pak Mamatnya lagi melambaikan tangannya, kalau mobil wajar aja gak keliatan karena bukan mobil yang biasa dipake, mobil yang satunya lagi masuk bengkel, maklum udah tua”.
Sari anak tunggal, bukan hanya cantik, tapi juga tajir (kaya). Bapaknya seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang jual beli mobil. Ibunya adalah seorang psikolog terkenal. Tapi dia gak betah di rumah, oleh karena itu lebih sering main dan belajar di rumahku, yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumahnya.
Mengenai kekesalanku tadi, itu karena Erwan, si ketua Rohis yang sok alim itu, kalau jalan tunduk-tunduk, bicara dengan lawan jenis selalu memalingkan wajahnya dari si lawan bicara, kalau manggil kita pake mbak-mbak segala, emangnya aku mbaknya apa, yang bikin aku kesal tadi dia udah berani mengkritik aku, dia bilang rok aku kependekanlah, bicaraku terlalu semangatlah, padahal aku ngomongkan pake mulutku sendiri, dasar rese’!, nyebelin, walaupun dia ngomongnya dengan lemah lembut, tetep aja nyebelin, menggurui!.
Awal permasalahannya sih, waktu dia mengantar tugas dari Pak Bahran guru Agama, dia memanggilku, ”Mbak Sinta, ini ada titipan tugas dari Pak Bahran, beliau tidak masuk hari ini karena mengantar istrinya yang mau melahirkan”, aku cepat-cepat menghampirinya untuk mengambil tugas itu, eh.. tiba-tiba aku terjungkal karena ada yang iseng mengikat tali sepatuku jadi satu kiri dan kanan. Rokku yang udah kependekan tersingkap beberapa senti, menambah riuh sorakan anak putra yang sejak tadi memperhatikan kami. Aku langsung teriak, ”Siapa yang berani kurang ajar begini?”, anak-anak langsung diam, mereka sebagian besar memang rada takut padaku, karena selain aku ketua kelas, gak nyombong sih, aku sudah sabuk putih pencak silat. Tapi kulihat sekilas Erwan berpaling ke arah lain, aku cepat-cepat membetulkan tali sepatuku dan berdiri, kemudian menghampirinya untuk mengambil tugas itu, Eh dia bukanya langsung menyerahkan tugas itu, malah ceramah dulu. ”Maaf ya mbak, lain kali roknya agak dipanjangin lagi, jadi nggak bikin orang lain punya niat jail, satu lagi, nuwun sewu ya mbak, nggak baik lho kalau wanita itu suaranya sopran”. Emang sih nada bicaranya Erwan sopan, tapi isinya nyelekit banget.
Keesokan harinya seperti biasa aku menunggu Sari, di depan rumahnya, lumayan kan buat irit ongkos, tapi yang ditunggu-tunggu kok gak nongol-nongol juga. Akhirnya aku berangkat sendiri dari pada terlambat, bisa-bisa ketinggalan pelajaran jam pertama. Bel berbunyi tepat ketika aku melangkahkan kaki memasuki pintu gerbang sekolah, aku pun segera berlari menuju kelas. Sampai di kelas, kok aku belum menjumpai wajah Sari. Hingga bel pulang berbunyi pun Sari belum ada kabarnya. Perasaanku jadi gak enak.
Pulang sekolah aku pun langsung ke rumahnya, ternyata di rumah tidak ada siap-siapa, aku tanya tetangganya, katanya tadi malam ada polisi yang datang ke rumahnya, kemudian bapak dan ibunya pergi bersama-sama polisi itu. Kucoba untuk menghubungi telepon seluler milik ibunya, ternyata ibunya ada di rumah sakit. Tergesa-gesa aku menyusul ke rumah sakit, kulihat Sari terbaring lemah dengan wajah cantiknya yang nampak pucat dan lengan yang diinfus, ada bekas darah mengering di sekitar lehernya, dan kulihat wajahnya lebam biru-biru, menurut keterangan polisi, Sari korban perampokan dan pemerkosaan.
Menurut ibunya, malam itu, Sari pamit mau ke rumahku, ternyata dia tidak menuju rumahku, malah jalan-jalan sama anak-anak teman bisnis bapaknya. Sari memang punya genk sendiri selain berteman dengan aku. Setelah jalan-jalan mereka mampir ke diskotik dan mabuk-mabukan di sana. Sari kemudian pulang sendiri karena teman-temannya pada teler abis. Ketika itulah, tepat di simpang dekat rumah kami, dia dihadang oleh sekelompok preman yang biasa mangkal di situ, apalagi aku tahu kalau Sari suka pake baju yang seksi abis. Yah aku bisa ngebayangin gimana kejadian naas itu bisa terjadi. Tiba-tiba kudengar dari dokter bahwa Sari memanggil keluarganya, termasuk aku, karena kondisinya kritis.
Di saat-saat terakhir itulah, Sari dengan butiran bening di matanya menggenggam tanganku sambil berkata lirih, ”Cukup aku saja Sin yang begini, kuharap kamu mau mendengar kata-kata Erwan waktu itu, jangan seperti a...ku.” Dengan air mata berlinang kutuntun Sari untuk mengucapkan kalimat syahadat, akhirnya dia menghembuskan nafas yang terakhir di hadapanku. Aku hanya bisa menangis dalam bisu sambil berjanji pada diriku sendiri untuk berubah.
”Mbak Sinta... cepetan keluar, tuh tamunya udah pada datang!” Aku tersadar dari lamunanku, kurapikan gamis dan jilbab biruku. Maklum mau ada ta’aruf. Denger-denger sih calonku itu pernah satu sekolah denganku, dengan langkah cepat dan deg-degan aku kemudian keluar. Aku menjerit di dalam hati melihat tamu yang ada di hadapanku, Subhanallah, ternyata ikhwan itu adalah Erwan. Tak henti-hentinya aku bertasbih di dalam hati untuk menahan gemuruh di dada ini.
Ny, bpp, 211001

6 comments:

Ani

July 20, 2008 at 10:49 PM

Alhamdulillah, Sinta akhirnya tersadar...

Joell de Franco

July 23, 2008 at 3:15 AM

Semoga lancar ta'arufnya dan sampai di kursi pelaminan,amiiinnn ya Allah....

Redha Herdianto

July 23, 2008 at 11:15 PM

ikut mendoakan saja

TaMie

July 27, 2008 at 12:21 AM

Nice story! Tapi kurang panjang nih, biar lebih dramatis gituh. O ya, sebelum menerima lamaran Erwan, saya sarankan si Sinta suruh baca buku "Membongkar Rahasia Ikwan Nyebelin“ dulu. Yah, itung2 waspada. Hhe.

Dzofar

July 28, 2008 at 1:26 AM

Setuju sama tamie.. kurang panjang critanya biar enak dibacanya..

treen

July 28, 2008 at 8:02 PM

Terima kasih masukannya. Gimana ya? Biar pendek ada kejutannya saja.