Spiga

Imam Bukhari: Lawatan dan Pengorbanan Mencari Ilmu

Sepulang dari pengajian ada sesuatu yang mengganjal di hati Arman, ia ingin menanyakan ke ayah secepatnya.
“Yah, ustadz tadi kok manggil-manggil ayahnya Ifa, sih? Katanya ustadz dari Jakarta. Kok, sudah kenal ya? Apa ustadz tadi saudaranya Ifa?”, berondong Arman ke ayahnya.
Pak Ardi sedikit berfikir akan menjawab pertanyaan Arman. Akhirnya tersenyum geli sambil menanyakan balik, “Yang Arman maksud ayahnya Ifa? Pak Buhari, yang di Blok AA itu ya?”
“Iya, yah. Pak Buhari itu kan ayahnya Ifa? Kenapa dipanggil-panggil terus sama ustadz tadi?”, jawab Arman cepat.
“Yang dimaksud ustadz tadi bukan Pak Buhari itu. Tapi yang disebut-sebut ustadz Ahmad tadi adalah Bukhari, seorang perawi dan penulis hadits. Karena banyaknya hadits yang dihafalkan, diriwayatkan dan ditulisnya maka sering digelari Imam Bukhari dan termasuk enam orang yang disebut Amirul-Mu'minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits)”, Pak Ardi mulai menjelaskan.

“Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, karena lahir di Bukhara, termasuk ke dalam wilayah negara Uzbekistan sekarang yakni 60 km sebelah barat Samarkand, pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakek buyutnya, Bardizbah, adalah keturunan Persia pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja'fi, gubernur Bukhara. Karena itulah kakeknya dipanggil "al-Mughirah al-Jafi”, lanjut Pak Ardi.
“Imam Bukhari dilahirkan setelah shalat Jum'at. Tak lama setelah bayi yang baru lahir itu, ia pun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo'a ke hadapan Allah SWT, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian akhirnya, penglihatan bayinya itu normal kembali. Begitu kisahnya.” Terang ayah Arman ini.

“Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian. Imam Bukhari dibesarkan dalam suasana rumah tangga yang ilmiah, tenang, suci dan bersih dari barang-barang haram dan syubhat. Imam Bukhari setelah dewasa, sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar." Pak Ardi mengakhiri jawaban.

“Perawi hadits itu apa, Yah?”, Tanya Arman penasaran.
“Perawi hadits itu adalah orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah sampai kepada penulis hadits dan penulis hadits adalah orang yang menghafalkan hadits dan menuliskan hadits ke dalam buku-buku hadits. Nah, Bukhari ini adalah perawi hadits dan penulis hadits tersebut”, terang Pak Ardi.
“Bagaimana caranya Yah, meriwayatkan hadits itu?”, Tanya Arman lagi.
“Imam Bukhari mencari hadits baru dengan berjalan ke tempat orang-orang yang menurut informasi mempunyai hafalan hadits. Kemudian mendatanginya, melihat kehidupan dan riwayat kepribadiannya, kemudian menghafalkan hadits itu dari orang tersebut. Terakhir kemudian menulisnya. Itu singkatnya”, terang ayahnya.
“Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadits-hadits dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbutan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadits dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadits sebanyak itu lengkap dengan sumbernya.” Lanjut ayah Arman lagi.
“Kalau begitu, Imam Bukhari itu petualang ya yah?”, komentar Arman.
“Iya. Imam Bukhari harus berjalan mengelilingi hampir seluruh wilayah Islam kala itu. Selama 16 tahun melakukan perjalanan studi di dunia Islam baru mulai menuliskan hadits. Kata Imam Bukhari, “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.” Itu kata Imam Bukhari, lho Man.” kata ayah lagi.
“Berarti Si Bolang kalah dong, yah?” celetuk Arman.
“Ya jelas. Si Bolang kan hanya di Indonesia saja. Sedangkan Imam Bukhari sudah melalang buana di Asia Barat sana. Bolak balik lagi.” Jawab Pak Ardi.
“Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Aku pernah mendengar al-Bukhari mengatakan, “Aku diilhami untuk menghafal hadits ketika masih dalam asuhan mencari ilmu.” Lalu aku bertanya, “Berapa umur anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang… dan seterusnya hingga perkataan beliau, “Ketika aku menginjak umur enam belas tahun, aku telah hafal kitab-kitab karya Ibnul Mubarak dan Wakil. Dan aku pun tahu pernyataan mereka tentang Ash-hab ra’yu”, Pak Ardi mengutip kisah dari buku yang pernah dibacanya.
“Dimulai tahun 210 H, berarti masih berumur 16 tahun itu juga, Imam Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami'as-Sahih dan pendahuluannya.” Terang ayah Arman.
“Setelah menginjak usia delapan belas tahun, aku telah menyusun kitab tentang sahabat dan tabi’in. Kemudian menyusun kitab tarikh di Madinah di samping kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika malam terang bulan.” Beliau melanjutkan perkataannya, “Dan setiap kali ada nama dalam at-Tarikh tersebut, pasti aku mempunyai kisah tersendiri tentangnya, tetapi aku tidak menyukai jika kitabku terlalu panjang.” Kutip Pak Ardi lagi.
“Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut. Kemasyuran Imam Bukhari segera mencapai bagian dunia Islam yang jauh, dan kemanapun ia pergi selalu di elu-elukan. Masyarakat heran dan kagum akan ingatanya yang luar biasa. Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya.” tukasnya
“Bahkan Laptop Si Unyil pun juga kalah dengan ingatan Imam Bukhari.” Pak Ardi balik menggoda Arman.
“Rasyid ibn Ismail, abang Imam Bukhari yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma karena tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua karena Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat. Dan Muhammad bin Hamdawaih mengatakan, “Aku mendengar al-Bukhari berkata, bahwa aku hafal seratus ribu hadits shahih dan dua ratus ribu hadits tidak shahih.”Hebat kan?” pancing Pak Ardi.
“Iya, yah. Subhanallah. Maha Suci Allah yang memberi karunia kepada Imam Bukhari. Terus apa ada ujian lain yang membuktikan kehebatannya itu, yah?” selidik Arman.
“Ada lagi buktinya. Ini ceritanya. Suatu ketika Imam Bukhari tiba di Baghdad. Kehadiran beliau didengar oleh para ahlul hadits negeri itu. Maka, berkumpullah mereka untuk menguji kehebatan hafalan beliau tentang hadits.
Syahdan para ulama tersebut sengaja mengumpulkan seratus buah hadits. Susunan, urutan dan letak isi (matan) serta perawi (sanad) seratus hadits tersebut sengaja dibolak-balik. Matan dari sebuah sanad diletakkan untuk sanad lain, sementara suatu sanad dari sebuah matan diletakkan untuk matan lain dan begitulah seterusnya. Seratus buah hadits itu dibagikan kepada sepuluh orang tim penguji, hingga masing-masing mendapat bagian sepuluh buah hadits.
Maka tibalah ketetapan hari yang telah disepakati. Berbondong-bondonglah para ulama dan tim penguji itu, serta para ulama dari Khurasan dan negeri-negeri lain serta penduduk Baghdad menuju tempat yang telah ditentukan.
Ketika suasana majlis telah menjadi tenang, salah seorang dari kesepuluh tim penguji mulai memberikan ujiannya. Beliau membacakan sebuah hadits yang telah dibolak-balik matan dan sanadnya kepada Imam Bukhari. Ketika ditanyakan kepada beliau, Imam Bukhari menjawab, “Saya tidak kenal hadits itu.” Demikian seterusnya satu persatu dari kesepuluh hadits penguji pertama itu dibacakan, dan Imam Bukhari selalu menjawab, “Saya tidak kenal hadits itu.”
Beberapa ulama yang hadir saling berpandangan seraya bergumam, “Orang ini berarti faham.” Akan tetapi ada di kalangan mereka yang tidak mengerti, hingga menyimpulkan bahwa Imam Bukhari terbatas pengetahuannya dan lemah hafalannya. Begitu juga saat dibacakan oleh orang kedua, ketiga hingga kesepuluh orang yang maju.
Setelah semuanya selesai menguji, beliau kemudian menghadap orang pertama seraya berkata, “Hadits yang pertama anda katakan begini, padahal yang benar adalah begini, lalu hadits anda yang kedua anda katakan begini padahal yang benar seperti ini. Begitulah seterusnya hingga hadits kesepuluh disebutkan oleh beliau kesalahan letak sanad serta matannya, dan kemudian dibetulkannya kesalahan itu hingga semua sanad dan matannya menjadi benar kedudukannya.
Demikian pula seterusnya yang dilakukan oleh Imam Bukhari kepada para penguji berikutnya hingga sampai kepada penguji kesepuluh. Maka, orang-orang pun lantas mengakui serta menyatakan kehebatan hafalan serta kelebihan beliau.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, “Yang hebat bukanlah kemampuan al-Bukhari dalam mengembalikan kedudukan hadits-hadits yang salah, sebab beliau memang hafal, tetapi yang hebat justru hafalnya beliau terhadap kesalahan yang dilakukan oleh para penguji tersebut secara berurutan satu persatu hanya dengan sekali mendengar.” Begitu, Man.” Cerita Pak Ardi.
“Kalau begitu enak dong, yah jadi orang pintar.” Tukas Arman.
“Jadi ulama itu juga banyak cobaanya lho Man. Imam Bukhari itu pernah diusir dari kampungnya Bukhara oleh penguasa saat itu. Karena Imam Bukhari tidak mau hanya khusus melayani Sultan dan keluarganya saja. Imam Bukhari lebih mementingkan orang banyak, ummat dan pencari ilmu, dari pada melayani hanya untuk satu orang sultan. Dan pengusiran itu terjadi tidak hanya sekali.” Cerita ayah Arman lagi.
“Beliau juga pernah difitnah sebagai orang yang mengatakan, bahwa bacaan terhadap al-Qur’an adalah makhluk. Padahal beliau tidak mengatakan demikian dan bahkan secara tegas beliau membantah bahwa orang yang membawa berita tersebut adalah pendusta. Beliau bahkan mengatakan, “Bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, sedangkan perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk.” Tuturnya.
“Nah, pada saat diusir itu, suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga wafatnya.
Al-Bukhari wafat malam Sabtu sesudah shalat Isya’, bertepatan dengan malam Iedul fitri, tahun 256 H dan dikuburkan pada hari Iedul Fitri sesudah shalat Zhuhur. Beliau wafat dalam usia 62 tahun kurang 13 hari dengan meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin.” Tutup ayah Arman ini.
“Iya yah hampir lupa. Terus Imam Bukhari itu meninggalkan apa tadi?” tanya Arman.
“Peninggalan Imam Bukhari yang utama dikenal adalah kitab-kitab hadits. Yang paling pokok adalah kitab al-Jamiush shahih (Shahihul Bukhari) yaitu kitab hadits tershahih diantara kitab hadits lainnya. Selain itu beliau menyusun juga kitab al-Adabul Mufrad, Raf’ul Yadain fish Shalah, al-Qira’ah khalfal Iman, Birrul Walidain, at-Tarikh ash-Shagir, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, adl-Dlu’afa (hadits-hadits lemah), al-Jaami’ al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Kitabul Asyribah, Kitabul Hibab, Asaami ash-Shahabah (Nama-nama para shahabat) dan lain sebagainya.” Pak Ardi mengakhiri penuturannya.

3 comments:

WarnaWarni Dunia

June 4, 2008 at 10:26 PM

Sempat kaget nih baca postingannya,kok nama tifa disebut2 d.blog ini..hehhhee>>>sempat GeeR sihhh..
Iya,nama ayah ifa bkan bukhari,tapi bakhari..>>kidding..
Wahhh,keren nih postingannya..
Laen kali jgn cuma cerita tntng imam bukhari yh ??Imam bakhari jg..hehehhe>>sekali lagi kidding..

Sigit

June 5, 2008 at 5:06 AM

wah keren euy artikel nya.......salut buat anda,,,,,keep blogging,,,,,terus ciptakan artikel yang bermanfaatpoj

ratu_ida84

June 6, 2008 at 12:12 AM

hem... nice posting ^_^
keren euy..! aq bisa gk yah buat bgt hehehe ^_^